Verifikasi Tilang Elektronik Via Gadget

Total berkas electronic traffic law enforcement (E-TLE) atau tilang elektronik yang ditangani oleh Kejari Surabaya periode Januari sampai Maret 2021 sebanyak 804 berkas.

Jumlah itu meliputi kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kasi Pidum Kejari Surabaya Farisman Isandi Siregar menjelaskan, selama pandemi pihaknya tetap membuka pelayanan seperti biasa. Tentunya, tetap menerapkan protokol kesehatan.

Pelanggarannya sebagian besar tidak memasang sabuk pengaman.

Sisanya melanggar markah, rambu rambu dan menerobos lampu lalu lintas.

“Kalau tidak dikonfirmasi selama jangka waktu yang sudah ditentukan, kendaraan itu akan diblokir. Sehingga tidak bisa balik nama, bayar pajak, mutasi dan lain lainnya,” kata Farisman, Selasa (9/3/2021).

Pembayaran denda tilang bisa melalui Kantor Pos dengan membawa persyaratan form tilang biru asli dan fotokopi, fotokopi KTP.

Kemudian mengisi formulir alamat pengiriman, membayar denda tilang, mendapatkan resi pembayaran denda tilang resmi, dan bukti tilang akan dikirim oleh Kantor Pos langsung ke alamat pengiriman.

SIM atau STNK yang sebelumnya disita petugas akan diantar ke rumah.
Dalam layanan ini, jika melalui SMS cukup kirim nomor pelanggar, nomor tilang dan tanggal sidang.

Sedangkan lewat WA, cukup mengirimkan foto surat tilang saja dengan mencantumkan alamat.

Warga yang memanfaatkan layanan ini cukup menyiapkan uang denda tilang sesuai putusan pengadilan, plus Rp 20.000 untuk jasa pengirimannya.

Humas Pengadilan Negeri Surabaya Safri Abdullah, mengatakan beberapa bulan yang lalu sudah ada kesepakatan dengan kepolisian, kejaksaan, bahwa tilang elektronik prosesnya sama.

“Petugas memproses pelanggar dengan mengirim bukti pelanggar ke rumah masing-masing. Meski demikian, tetap ada tilang seperti biasa,” ujar Safri, Rabu (10/3/2021).

Menurut Safri, SIM dan STNK pelanggar akan diblokir jika mereka tidak segera mengurusnya dengan melakukan pembayaran denda pada waktu yang sudah ditentukan.

“Prosedur di pengadilan tidak bertemu dengan orang, berkas itu dikirim lalu hakim memutuskan kemudian dieksekusi di kejaksaan. Mekanisme tetap seperti biasa,” terangnya.

Mekanisme Baru

Sementara itu suasana di Pelayanan Tilang Elektronik atau E-TLE di Mall Pelayanan Publik Siola, Jalan Tunjungan, Kota Surabaya, Rabu (10/3/2021) siang, nampak lengang.

Saat itu hanya terlihat satu orang yang datang melakukan verifikasi. Pelanggar tilang elektronik itu bernama Hendro (42).

Di tempat itu Hendro melihat jenis pelanggaran yang ia lakukan.
Informasi berupa data, tempat dan waktu kejadian lengkap ditampilkan oleh petugas melalui perangkat komputer.

“Jenis pelanggaran menerobos lampu merah di Mayjen Sungkono 28 Februari lalu. Waktu itu saya mengendarai kendaraan roda empat. Terburu-buru soalnya. Saya dijadwalkan sidang tanggal 26 Maret,” ujarnya.

Operator E-TLE Satlantas Polrestabes Surabaya Aipda Arie P mengatakan, kepolisian memulai penindakan pelanggaran lalu lintas dengan metode dan mekanisme yang baru di tahun 2021.

“Pada saat ini masyarakat bisa melakukan konfirmasi pelanggaran lalu yang telah dilakukan hanya dengan menggunakan gadget di rumah masing-masing,” terangnya.

Dengan mengakses etle.jatim.polri.go.id untuk konfirmasi dan memasukkan nomor surat konfirmasi ke website, sehingga data akan keluar. Sehingga dengan demikian tidak perlu ke Siola.

Selain itu, lanjut Aipda Arie, kepolisian juga telah berkoordinasi dengan Criminal Justice System, seperti Pengadilan Negeri dan Kejaksaan, dengan formula E-TLE yang baru ini, tidak melakukan penyitaan barang bukti SIM dan STNK.

“Alhamdulillah cukup efektif dalam mencegah masyarakat datang ke Siola. Adapun yang datang cuma beberapa saja yang tidak memiliki gadget atau pda saat memproses tidak bisa karena sinyal lemah. Sehingga datanya kurang dan seterusnya baru bisa diurus di sini,” tuturnya.

“Karena bisa dilakukan di rumah, sehingga kondisi pada saat ini di Pos E-TLE Gakkum Siola lengang. Satu hari yang datang tidak sampai belasan orang,” lanjutnya.

Terkait layanan ini, Aipda Arie menyampaikan, tujuannya adalah menciptakan kesadaran disiplin berkendara.

Masyarakat diharapkan tetap taat berlalu lintas baik ada polisi atau tidak.

“Lewat metode ini kami melakukan pemantauan 1×24 jam. Jangan tetap memakai paradigma lama. Cuma taat ketika ada polisi saja. Walaupun di malam hari kondisi hujan lebat tidak ada petugas, jalan lagi sepi, berpikir 1.000 kali kalau hendak melakukan pelanggaran lalu lintas,” tegasnya.

Menurut Aipda Arie, dengan penerapan E-TLE 2021 yang baru, polisi menjamin tegaknya supremasi hukum.

Siapapun yang melanggar akan tetap ditindak, karena kamera tidak memandang profesi seseorang. Walaupun kondisi pandemi, tetap dilakukan penegakan.

sumber : https://surabaya.tribunnews.com/2021/03/16/verifikasi-tilang-elektronik-via-gadget

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *