Sederet Kasus Pengendara yang Mengaku Keluarga Jenderal saat Melanggar Lalu Lintas

Hukum di Indonesia kerap dianggap tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Hal itu lantaran ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab yang merasa memiliki kekuasaan.

Jangankan kasus berat, seperti melanggar peraturan lalu lintas saja ada segelintir orang yang berani membawa-bawa status keluarga yang dianggap memiliki power. Beberapa kali terjadi pelanggar lalu lintas mengaku sebagai keluarga dari orang berpengaruh, seperti anak jenderal atau saudara dari pejabat.

Sayangnya, polisi tak terpengaruh dengan sikap arogan semacam itu. Polisi tetap akan menindak tegas siapapun yang melanggar aturan.

Tak hanya mengaku, bahkan mereka berani membentak hingga memarahi polisi. Sikap tersebut tentu tidak patut untuk dilakukan, bahkan jika seseorang tersebut anak dari seorang Presiden.

Ngaku Anak Jenderal

Seorang pengendara mobil memaksa memaksa petugas TransJakarta untuk membuka portal busway. Pemuda berusia 18 tahun itu menggertak petugas bahwa dirinya adalah anak jenderal.

Tak main-main sosok yang diakunya ialah Kapolri, yang kala itu dijabat oleh Jenderal Timor Pradopo.

“Ada pengendara mobil yang ngaku-ngaku anak jenderal dan meminta petugas membuka portal busway,” ujar Humas BLU TransJakarta Sri Ulina kepada merdeka.com, Selasa (30/7/2013) lalu.

Tepatnya terjadi di Galur, Senen, Jakarta Pusat sekitar pukul 09.30 WIB, saat kondisi jalan macet.

“Dia memaksa petugas untuk membuka portal busway, padahal yang boleh masuk hanya bus transjakarta. Terus di bilang dia anak jenderal,” jelasnya.

Terkuak Anak Petani

Setelah ditelusuri, pria berinisial FP masih menjadi mahasiswa di Universitas Trisakti. Ternyata tak sesuai yang diakunya.

Devi, ayah FP menjelaskan mereka merupakan keluarga petani karet asal Balikpapan.

Alhasil, perilaku anaknya membuat Devi malu lantaran mengaku anak orang nomor satu di Korps Bhayangkara saat itu.

Siswi SMA Ngaku Anak Jenderal

Kasus pengendara ngaku keluarga jenderal juga pernah dilakukan oleh seorang siswi SMA Methodist 1, Medan pada 2016 silam. Gadis berinisial SD itu mengaku sebagai anak dari Irjen Pol Arman Depari saat ditilang oleh Polisi Lalu Lintas.

“Pada prinsipnya kita dari Kepolisian akan menindak tegas siapapun orang yang melanggar lalu lintas,” ujar Kasubdit Penegakkan Hukum Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto saat dihubungi merdeka.com, Kamis (7/4).

Bersama gerombolan temannya, ia melakukan konvoi usai ujian nasional (UN). “Hukum tidak memandang status, siapapun orangnya kalau memang dia melanggar ya kita akan tindak,” terangnya.

Arogan dan Ancam Perwira Polantas

Siswa SMA itu mewarnai aksi konvoi dengan tindakan arogan. Selain melanggar aturan lalu lintas bersama temannya, ia tega mengancam perwira Polantas.

Mobil yang ditumpangi 7 siswi dengan seragam berlogo SMA Methodist I itu, dihentikan oleh Ipda Perida Panjaitan. Mereka mengendarai dengan posisi kap belakang terbuka lebar.

“Itu ada mobil merah di depan, kenapa cuma kami yang dihentikan,” protes mereka.

Lantaran melanggar lalu lintas, Polantas akan menindak dan membawa mobil itu ke Satlantas Polresta Medan. Namun wanita cantik berambut panjang tersulut emosi dan mengancam.

“Oh oke, mau dibawa? Siap-siap kena sanksi turun jabatan ya. Aku juga punya beking,” ucapnya dengan nada tinggi.

Gadis ini marah dan terus menunjuk-tunjuk Polantas yang menghentikan. “Oke Bu ya, aku nggak main-main ya Bu. Kutandai Ibu ya. Aku anak Arman Depari,” paparnya.

Ternyata Bukan Anak Jenderal

Sementara itu, Ipda Perida tak banyak komentar. “Iya, iya,” ujarnya sembari meletakkan telunjuk di bibir.

Siswi itu menggenggam ponsel dan seakan-akan ingin menelepon. “Bapak ini dari mana ya?,” tanyanya pada Polantas lain.

Namun setelah dikonfirmasi lagi, apakah benar putri dari Irjen Pol Arman Depari, Deputi Bidang Pemberantasan badan Narkotika Nasional (BNN) kala itu, SD tak mampu menjawab dan seakan menghindar.

Petugas akhirnya membiarkan para siswi itu pergi. “Kalian langsung pulang ya, langsung pulang ke rumah. Kami memang membubarkan konvoi anak sekolah, buat kalian juga lho,” tutur Ipda Perida. Mereka segera masuk mobil dan berlalu, dengan kap belakang tertutup.

Konvoi siswa yang selesai mengikuti UN berlangsung sporadis di Medan kala itu. Para siswa yang melakukan aksi corat-coret dilanjutkan berkeliling kota. Sebagian mengendarai mobil, banyak pula yang menggunakan sepeda motor.

Kini SD telah berubah drastis sebagai mahasiswa jurusan hukum di Sumatera Utara, dan menjadi seorang model.

Sumber : https://m.otosia.com/berita/sederet-kasus-pengendara-yang-mengaku-keluarga-jenderal-saat-melanggar-lalu-lintas.html

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *