Pemanfaatan Teknologi Dalam Penerapan Sistem Tilang Elektronik

86NEWS.CO – Perkembangan teknologi yang semakin pesat memunculkan ide baru bagi kita semua untuk berlomba berinovasi. Salah satunya pemanfaatan perkembangan teknologi pada sistem tilang elektronik. Apa itu tilang elektronik? Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau Tilang Elektronik adalah cara tindak pelanggaran hukum bagi pengendara yang didokumentasikan secara elektronik dengan menggunakan pemantauan cctv yang hasil pelanggarannya akan dikirim melalui pesan online atau diantar ke rumah. Penerapan sistem tilang elektronik berlaku sejak 23 Maret 2021 dilakukan secara nasional. Tujuannya untuk membuat kedisiplinan bagi pengguna jalan dalam berlalu lintas. Tentunya penerapan sistem ini tercantum dalam peraturan undang-undang, yaitu UU NO. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Berikut mekanisme tilangnya :

1. Perangkat cctv yang sudah dirancang sesuai sistem akan menangkap pelanggaran lalu lintar yang sudah dimonitor dan mengirimkan hasil dokumentasi atau media barang bukti kepada pelanggar.
2. Petugas terkait akan mengidentifikasi identitas kendaraan menggunakan Electronic Registration and Identifikasi (ERI) sehingga didapatkan sumber data kendaraan.
3. Pelanggar akan mendapatkan surat konfirmasi pada alamat pemilik alamat dari pihak petugas.
4. Pemilik datang langsung ke kantor Sub Direktorat Penegak Hukum untuk melakukan konfirmasi.
5. Pelanggar akan mendapatkan denda dengan metode pembayaran via BRIVA. Dapat dibayarkan melalui bank atau sidang.

Ciri-ciri yang menjadi target dalam penerapan tilang elektronik :

1. Menggunakan barang elektronik saat berkendara. Seperti handphone, earphone, dan sebagainya yang dapat mengganggu konsentrasi pengendara.
2. Tidak mengenakan helm dan helm yang diharuskan ialah sesuai standar (SNI).
3. Melanggar aturan rambu lalu lintas yang ada. Pengendara diwajibkan disiplin dan menaati peraturan lalu lintas dalam berkendara guna keselamatan pribadi dan juga orang lain.
4. Menggunakan plat nomor yang tidak sesuai aturan, alias plat nomor plat palsu.
5. Tidak menggunakan sabuk pengaman saat berkendara dalam mobil.

Besaran denda dalam pelanggaran berlalu lintas sebagai berikut :

1. Menggunakan handphone atau barang elektronik lainnya dikenakan Pasal 283 UU LLAJ dengan sanksi tiga bulan penjara atau denda sebesar Rp. 750.000.
2. Tidak mengenakan sabuk pengaman dikenakan sanksi satu bulan penjara atau denda sebesar Rp. 250.000.
3. Melanggar aturan rambu lalu lintas serta marka jalan akan dikenakan sanksi Pasal 287 ayat 1 dengan sanksi dua bulan penjara atau denda Rp. 500.000.
4. Tidak memakai helm serta yang sesuai aturan yang ada yaitu dengan standar nasional Indonesia (SNI) maka dikenakan Pasal 106 ayat 8 UU LLAJ dengan denda 250.000 atau sanksi satu bulan penjara.
5. Memakai plat nomor palsu yang tidak sesuai ketentuan dan aturan maka dikenakan Pasal 280 dengan sanksi dua bulan penjara atau denda 500.000.

Dengan adanya penerapan tilang elektronik tentunya sangat berguna karena bekerja secara efektif dan efisien. Polisi tidak perlu lagi sering-sering turun langsung ke jalan untuk mengadakan razia, cukup hanya dengan memantau monitor maka semua yang ada pada kamera cctv tersebut akan terekam dengan jelas.

Pihak terkait hanya tinggal mengambil data dan memproses untuk melakukan penangan tindak lanjut bagi pelanggar. Selain itu juga tidak membuang-buang waktu dalam pengerjaannya. Semua dilakukan secara cepat dan transparan. Walaupun masih banyak pengendara yang melakukan pelanggaran, adanya penerapan tilang elektronik ini sudah menjadi langkah awal yang baik dan bagus guna menertibkan pengendara di jalanan dengan cara yang modern.

Tapi dengan adanya tilang elektronik ini bisa membuat pengendara merasa was-was karena sudah mengetahui adanya cctv yang memantau untuk menilang pelanggar tata tertib lalu lintas. Dengan rasa itu masyrakat akan menjadi berjaga-jaga dengan mengantisipasi untuk mematuhi aturan yang ada. Hal ini membuat menurunnya pelanggar lalu lintas dalam skala besar. Yang dapat dilihat perubahannya secara nyata.

Yang perlu ditingkatkan ialah ketegasan penerapan hukumnya. Percuma saja jika sudah dirancang sistem dengan baik yang tentunya canggih tapi tidak digunakan dengan bijak dan adil sebagaimana mestinya. Sanksi hukum harus diterapkan dengan tegas agar para pelanggar menjadi jera. Sehingga apa yang diinginkan tercapai. Tentunya kita semua ingin para pengguna jalan tertib dan disiplin. Para pengguna pejalan kaki juga tertib.

Kemudian juga trotoar yang seharusnya digunakan sesuai fungsinya. Karena masih banyak juga ditemukan pedang kaki lima yang berdagang di sepanjang pinggiran jalan. Tentunya hal ini membuat ketidaknyamanan dan akan membahayakan. Semua yang ada di jalanan baik pengendara maupun pejalan kaki kemudian pedagang akan merasakan dampaknya. Tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi orang lain juga.

Karena keselamatan merupakan hal terpenting. Tingkat kesadaran pengendara akan keselamatan dan ketertiban berlalu lintas juga harus diperkuat, sekedar paham saja tapi tidak dilakukan dengan kesadaran diri penuh dan merasa itu tanggungjawab akan hanya sia-sia. Inilah pentingnya sosialisasi kepada masyarakat dan juga harus tepat sasaran. Karena akan berdampak terhadap pengetahuan masyarakat dalam pelanggaran berlalu lintas yang ada. Perlu diperhatikan juga bagi petugas untuk tidak melakukan kecurangan data.

Dikhawatirkan pelanggar merupakan orang terdekat maka ia melakukan kecurangan. Ini harus diperhatikan dan ditegaskan juga, petugas pun perlu dilakukan sosialisasi dan harus juga mendapat sanksi jika melakukan kecurangan. Kecurangan tidak boleh dilakukan oleh pihak manapun.

Oleh: Cindy Putri Clarita

(Mahasiswi Prodi Teknik Informatika Universitas Pamulang)

Sumber : https://86news.co/2021/04/13/pemanfaatan-teknologi-dalam-penerapan-sistem-tilang-elektronik/

 

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.